Teras
Pesantren
oleh: Leni Anggareni
Jalani hidup dengan
penuh arti dan senyuman, itulah prinsip
hidupnya. Tak ada keluh kesah yang tergores di wajah. Gadis yang aktif penuh dengan keceriaan dan
rasa semangat membuat orang lain senang melihatnya. Farihah Dwisilviyah
namanya, anak dari Bapak Firman dan Ibu Silvi. Keluarga yang sederhana bahkan
termasuk keluarga kelas menengah ke bawah. Tapi, tidak ada rasa malu bahkan
gensi untuk mengakui orangtua yang bekerja sebagai serabutan dan ibunya hanya
ibu rumah tangga. Anak kedua dari empat saudara, yang selalu membuat mereka
tersenyum.
Sejak menginjak sekolah
dasar sudah aktif mengajar adik-adik di kampung halaman, walaupun sekedar
belajar apa yang ia pelajari di sekolah dan tanpa bayar yang terpenting ilmu
yang ia dapatkan bermanfaat untuk oranglain. Jualan gorengan pun ia tekuni
untuk membantu perkenomian keluarga. Rasa malu sudah tidak ada dalam benaknya
hanya ada rasa berani untuk mencapai kesuksesan. Caci maki dari teman dan
tetangga sudah menjadi makanan sehari-hari, tak asing lagi untuk didengar masuk
telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
Dibalik kecerian dan
rasa semangat, kekurangannya tak jadi halangan tapi tantangan. Fisik yang tidak sempurna, itulah bagian takdir
hidup yang tak bisa diingkari. Terlahir menjadi seorang gadis yang memiliki
mata tak sempurna. Bagi Farihah, itu bukan kekurangan tapi kelebihan, itulah
prinsipnya. Walaupun fisik berbeda dengan oranglain, kesuksesan tetap harus ia
raih. Kesuksesan milik siapa saja yang ingin berusaha tanpa melihat kelebihan
dan kekurangan yang menggapainya. Sering teman-temannya menertawakan Farihah bahkan jadi bahan ejekan.
“Hey, mata buta!” ejek
Romy salah satu temanya.
“Iya. Mata jengkol!”
jawab Farihah dengan nada candanya.
Itulah cara Farihah agar tidak sakit hati. Rasa percaya diri tidak hilang dalam
benaknya. Sering temanya mengejek bahkan menertawakan Memang hati tak pernah
berbohong, ingin rasanya menjerit menangis karena ejekan semua orang. Hanya
sesakan dalam dada, hatilah yang tergores dan terluka. Sabar dan ikhlas jadi
pengobat agar tetap semangat dan ceria dalam menjalani hidup yang penuh dengan
sandiwara dan hanya topeng belaka. Kenyakinan menambah semangat bahwa Allah Swt
tidaklah sia-sia mencipkanya di balik fisiknya yang tak sempurna karena
kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta.
Layaknya hidup bermain peran ada protagonis,
antagonis dan tirtagonis. Farihah berusaha berperan menjadi tokoh protoganis,
karena hidup itu sekali dan ingin memberikan arti disetiap hela nafas dan
langkahnya agar selalu diridhoi Sang Pencipta. Hijab pun telah ia kenakan sejak
kecil walaupun bukan terlahir dari keluarga yang religus. Bahkan keluarganya
pun jauh dari agama, terutama Bapak Farihah yang sering mabuk. Bahkan shalat,
mengaji telah lama ditinggalkan. Berbagai usaha untuk menyadarkan seorang Bapak
telah ia lakukan.
“Bapak sudah adzan,
mari shalat dulu!” ucap Farihah ketika adzan berkumandang.
“Sana aja, Bapak nitip
shalatnya,” dengan datar Bapaknya menjawab.
Tangisan dan cucuran
air mata kini berkabut menyelimuti isi hati Farihah. Berharap Bapaknya menjadi
imam yang baik untuk keluarga. Hanya sabar dan doa yang ia bisa panjatkan. Seiring
berjalanya waktu pasti Bapaknya dengan izin-Nya. Keinginan mengubah diri dan
keluaarga agar dekat dengan Sang pencipta, ia memutuskan untuk berpesantren.
Farihah berfikir jika berpesantren pasti ilmu agamanya bertambah dan dia
berharap bisa berdakwah kepada lingkungan sekitar khusunya untuk keluarga.
“Inilah saatnya hijrah
untuk mencapai tujuan-Mu ya Rabb, Lahaulawalkuwata ilabilah,” Ucap Farihah.
Berbagai pondok
pesantren yang ada di Bandung ia temui. Hanya sekedar untuk mencari informasi
mengenai sistem pembelajaran dan tentunya dana. Ada salah satu pondok pesantren
yang membuat dia tertarik. Fasilitasnya yang lengkap, mesjidnya yang nyaman,
itulah bagian imipanya. Pesantren yang terkenal di semua penjuru membuat
semangat untuk meraihnya. Hingga ia bergegas untuk mempersiapkan persyaratannya
terutama mengaji dan tahfidz.
Persyaratantan pun telah dipersiapkan, tapi,
satu yang belum persiapkan yaitu biaya. Tapi, dia yakin masalah rezeki sudah
ada Allah yang mengatur yang terpenting ia menambah tahfidz agar bisa keterima
di pondok pesantren.
Disela-sela
kesibukannya menuntut ilmu tak lepas dari Al-Quran, karena sebentar lagi ia
akan mengikuti tes masuk pondok pesantren. Kini Al-Quran menjadi teman
hidupnya, kemana pun ia pergi ke luar pasti selalu dibawa. Ayat demi ayat,
surat demi surat kini sudah tak asing lagi di dengar. Baru satu juz yang ia
hafal yaitu juz 30.
“Bu, Farihah sudah
hafal juz 30,” ucap Farihah.
“Syukurlah, nak. Semoga
kelak di akhirat nanti kamu jadi ahli syurga ya Nak!” sahut ibunya. Farihah pun
mengangukan kepala dan memeluk ibunya. Tetapi kedua orangtuanya belum
mengetahui niat baik Farihah untuk berpesantren. Ada ketakutan tersendiri untuk meminta izin
berpesantren. Melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Waktu terus bergulir,
tes pun akan segera tiba. Kini saatnya Farihah meminta izin kepada kedua
orangtuanya.
“Ya Rabb, berikan yang
terbaik. Tunjukan jalan yang lurus ya Rabb,” ucap Farihah sambil memeluk
Al-Quran.
Malam itu hujan deras,
melihat situasi sepertinya cocok untuk mengobrol. Bapak yang sedang sibuk
menonton pertandingan sepak bola, dan ibunya
sedang duduk beristirahat. Farihah pun keluar dari kamar dan langsung
menghampiri ibunya.
“Bu, ada hal yang harus
dibicarakan Farihah,” ucap Farihah.
“Iya, nak. Ada apa?”
sahut ibu dengan mukanyanya yang terlihat lelah.
“Bu, Farihah ingin
pesantren!” pinta Farihah.
Ibunya tercengang
ketika mendengar anaknya ingin berpesantren. Bahkan seketika diam.
“Minta izinlah pada
Bapakmu, nak.”
Entah apa yang ada dalam
pikiran dan benak ibu. Rasa takut memenuhi perasaanya. Takut terkena marah oleh
Bapaknya. Tapi, keadaan yang mendesak hingga Farihah berani meminta izin.
“Goallllllllllll.”
Teriak Bapaknya yang sedang asik menonton sepak bola.
“Akhirnya, judiku menang!”
teriak Bapaknya dengan kegirangan.
Farihah tercengang
mendengarnya, ternyata uang yang didapatkan Bapaknya uang haram.
Pikiran-pikiran negative pun bermunculan dalam otaknya. Tapi, bagaimana
pun juga Farihah harus meminta izin.
Langkah demi langkah, ia menhampiri Bapaknya.
“Pak!” ucap Farihah.
Bapaknya pun tak mendengar. Hingga yang ketiga kalinya baru Bapaknya menjawab.
“Ada apa?” jawab
Bapaknya.
“Bolehkan Farihah
bicara dengan Bapak?” pinta Farihah.
“Iya. Ada apa?” jawab
Bapak.
“Pak, Farihah ingin berpesantren!”
“Biaya darimana?”
jawabnya dengan nada yang tinggi.
“Insya Allah Pak kalau
biaya dan reeeki sudah ada Allah yang mengatur,” jawab Farihah.
“Ya sudah. Minta saja
biayanya sama Allah,” dengan datarnya ia menjawab.
“Mau jadi apa kalau kamu pesantren? Jadi ustadzah?”
Tanya Bapaknya. Dan farihah pun tak mampu untuk menjawab.
“Tidak usah berpesantrenlah. Tuh lihat Ibumu yang
sekolah dari pesanten. Hasilnya, ah nihil. Hanya kerja di dapur tidak bisa
menghasilkan uang.” ucap Bapaknya.
Farihah tak sanggup lagi untuk menjawab. Hanya
mendengar celoteh yang keluar dari mulutnya. Tangisan air mata terus mengalir. Bapaknya
tidak memberikan izin untuk berpesantren dan
menyarankan agar Farihah menikah dengan orang kaya agar hidupnya senang.
Memang untuk Bapaknya harta jadi prioritas. Tak lama kemudian Ibunya
menghapiri,
“Nak, tidak semua orang yang berpesantren itu baik.
Baik buruknya manusia itu tergantung pada diri kita sendiri. Percayalah nak, walaupun kamu tak pesantren,
tapi kamu anak yang baik, yang selalu menghormati orangtua. Jaga sikap, sopan
santun dan yang terpenting kuatkan imanmu,” Ibunya memberika pepatah.
Farihah, tak mampu
menjawab. Hanya menangis. Memang keinginannya untuk berpesantren adalah mipinya
sejak kecil. Tak seperti biasanya,
mendengar keputusan itu merasa terpuruk. Merasa bingung dan kesal. Farihah yang
terlalu berharap kepada orangtua mewujudkan mimpinya, kini hanya rasa kesal
yang mengisi dalam hati. Memang berharap pada makhluk akan menyesal, harusnya
berharap kepada Sang Pencipta agar tak menyesal. Sesakan dalam dada memenuhi
hati, rasanya ingin segera mengeluarkan jerit tangis ini.
Keesokan harinya,
Farihah memutuskan mendaki gunung untuk menghilangkan rasa penat yang ada dalam
fikiran dan hatinya Untuk mendapatkaan izin orangtua sanngatlah susah. Apalagi
seorang perempuan, banyaklah rasa cemas apalagi ibunya. Farihah memutuskan
berbohong kepada kedua orangtuanya.
“Bapak, Ibu. Farihah
harus ke Bandung karena ada kegiatan,” ucap Farihah.
“Kegiatan apa, nak?”
Tanya Ibunya.
“Mewakili sekolah. Bu”
“Bagaimana Pak. Farihah
harus punya bekal?,” ucap ibunya.
“Tidak usah Bu. Farihah
punya uang.” Tempas Farihah.
Padahal Farihah tak
memiliki banyak uang. Hanya cukup untuk di perjalanan. Uang dari Bapaknya pun
ia tolak karena Farihah tahu uang didapatkannya hasil dari judi. Barang-barang
yang akan dibawa langsung ia pesiapkan. Dan berpamitan kepada kedua orantuanya.
Farihah pun kembali ke
Bandung. Gunung Artapela kini jadi sasaran di mana kaki ini berpijak dan
mengibarkan sang saka Merah Putih. Tanggal 27 Agustus 2016 akan menjadi
sanksi. Setelah sampai di Bandung, dia
pun mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke Gunung Artapela. Carrier 80 liter pun jadi beban di
pundaknya. Tenda, raincoat, alat –alat masak sudah ia perisiapkan. Begitu pun
dengan dirinya, bukan celana PDL yang ia pakai. Tapi rok dan hijab yang ia
kenakan. Hijab tak jadi halangan untuk mewujudkan mimpinya.
Di perjalanana membuat
Farihah banyak bersyukur. Keindahan alam membuat ia takjub. Gunung-gunung yang
menjulang tinggi dan pohon-pohon yang membuat kesejutan di dalam hati.
“Inilah ciptaan-Mu ya
Rabb?” ucap Farihah. Teringat ayat al-quran
surat Ar-Rahman “nikmat manakah yang kamu dustakan?”.inilah jawabnya. Setiba
di puncak gunung. Ia langsung berteriak menjerit kesakitan mengeluarkan isi
hatinya.
“Tuhan… kenapa hidup
ini begini?” Tanya Farihah sambil menangis.
“Apakah ini takdir?
Tunjukan jalan-Mu ya Rabb!” Farihah menangis sambil bersujud.
“De, ayo ikut upacara
pengibaran Bendera!” ajak seorang perempuan yang memakai hijab. Farihah pun
terkejut.
“Oh, iya.” Farihah pun
menyetujui untuk mengikutinya. Ia tercengang melihatnya karena yang ia lihat
rombongan santri yang akan melaksanakan upacara bendera. Syal yang mereka pakai
adalah syal tahfidz dari pondok pesantren yang ia inginkan. Pengibaran sang
saka Merah Putih pun berlangsung dengan khidmat. Ketika sang Merah Putih dikibarkan dan lagu
kebangsaan dinyanyikan:
“Indonesia
tanah airku
Tanah tumpah
darahku
Disanalah aku
berdiri
Jadi pandu Ibuku
Indonesia
kebangsaanku
Bangsa dan tanah
airku
Marilah kita
berseru
Indonesia
bersatu
Hiduplah tanahku
hiduplah negeriku
Bangsaku
rakyatku semuanya
Bangunlah
jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya
Indonesia raya
merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia raya
merdeka merdeka hiduplah Indonesia raya”
Air mata pun menetes,
antara senang dan sedih. Inilah jawaban dari Sang Pencipta. Bukan pondok
pesantren yang ia temui. Tapi, teras pesantren yang ia temui. Terimakasih Tuhan
inilah jawaban-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar