Total Tayangan Halaman

Senin, 09 Januari 2017

Cerpen Teras Pesantren

Teras Pesantren
oleh: Leni Anggareni

Jalani hidup dengan penuh arti dan senyuman, itulah  prinsip hidupnya. Tak ada keluh kesah yang tergores di wajah.  Gadis yang aktif penuh dengan keceriaan dan rasa semangat membuat orang lain senang melihatnya. Farihah Dwisilviyah namanya, anak dari Bapak Firman dan Ibu Silvi. Keluarga yang sederhana bahkan termasuk keluarga kelas menengah ke bawah. Tapi, tidak ada rasa malu bahkan gensi untuk mengakui orangtua yang bekerja sebagai serabutan dan ibunya hanya ibu rumah tangga. Anak kedua dari empat saudara, yang selalu membuat mereka tersenyum. 
Sejak menginjak sekolah dasar sudah aktif mengajar adik-adik di kampung halaman, walaupun sekedar belajar apa yang ia pelajari di sekolah dan tanpa bayar yang terpenting ilmu yang ia dapatkan bermanfaat untuk oranglain. Jualan gorengan pun ia tekuni untuk membantu perkenomian keluarga. Rasa malu sudah tidak ada dalam benaknya hanya ada rasa berani untuk mencapai kesuksesan. Caci maki dari teman dan tetangga sudah menjadi makanan sehari-hari, tak asing lagi untuk didengar masuk telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
Dibalik kecerian dan rasa semangat, kekurangannya tak jadi halangan tapi tantangan.  Fisik yang tidak sempurna, itulah bagian takdir hidup yang tak bisa diingkari. Terlahir menjadi seorang gadis yang memiliki mata tak sempurna. Bagi Farihah, itu bukan kekurangan tapi kelebihan, itulah prinsipnya. Walaupun fisik berbeda dengan oranglain, kesuksesan tetap harus ia raih. Kesuksesan milik siapa saja yang ingin berusaha tanpa melihat kelebihan dan kekurangan yang menggapainya. Sering teman-temannya menertawakan  Farihah bahkan jadi bahan ejekan.
“Hey, mata buta!” ejek Romy salah satu temanya.
“Iya. Mata jengkol!” jawab Farihah dengan nada candanya. Itulah cara Farihah agar tidak sakit hati. Rasa percaya diri tidak hilang dalam benaknya. Sering temanya mengejek bahkan menertawakan Memang hati tak pernah berbohong, ingin rasanya menjerit menangis karena ejekan semua orang. Hanya sesakan dalam dada, hatilah yang tergores dan terluka. Sabar dan ikhlas jadi pengobat agar tetap semangat dan ceria dalam menjalani hidup yang penuh dengan sandiwara dan hanya topeng belaka. Kenyakinan menambah semangat bahwa Allah Swt tidaklah sia-sia mencipkanya di balik fisiknya yang tak sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta.
 Layaknya hidup bermain peran ada protagonis, antagonis dan tirtagonis. Farihah berusaha berperan menjadi tokoh protoganis, karena hidup itu sekali dan ingin memberikan arti disetiap hela nafas dan langkahnya agar selalu diridhoi Sang Pencipta. Hijab pun telah ia kenakan sejak kecil walaupun bukan terlahir dari keluarga yang religus. Bahkan keluarganya pun jauh dari agama, terutama Bapak Farihah yang sering mabuk. Bahkan shalat, mengaji telah lama ditinggalkan. Berbagai usaha untuk menyadarkan seorang Bapak telah ia lakukan.
“Bapak sudah adzan, mari shalat dulu!” ucap Farihah ketika adzan berkumandang.
“Sana aja, Bapak nitip shalatnya,” dengan datar Bapaknya menjawab.
Tangisan dan cucuran air mata kini berkabut menyelimuti isi hati Farihah. Berharap Bapaknya menjadi imam yang baik untuk keluarga. Hanya sabar dan doa yang ia bisa panjatkan. Seiring berjalanya waktu pasti Bapaknya dengan izin-Nya. Keinginan mengubah diri dan keluaarga agar dekat dengan Sang pencipta, ia memutuskan untuk berpesantren. Farihah berfikir jika berpesantren pasti ilmu agamanya bertambah dan dia berharap bisa berdakwah kepada lingkungan sekitar khusunya untuk keluarga.
“Inilah saatnya hijrah untuk mencapai tujuan-Mu ya Rabb, Lahaulawalkuwata ilabilah,” Ucap Farihah.
Berbagai pondok pesantren yang ada di Bandung ia temui. Hanya sekedar untuk mencari informasi mengenai sistem pembelajaran dan tentunya dana. Ada salah satu pondok pesantren yang membuat dia tertarik. Fasilitasnya yang lengkap, mesjidnya yang nyaman, itulah bagian imipanya. Pesantren yang terkenal di semua penjuru membuat semangat untuk meraihnya. Hingga ia bergegas untuk mempersiapkan persyaratannya terutama mengaji dan tahfidz.
 Persyaratantan pun telah dipersiapkan, tapi, satu yang belum persiapkan yaitu biaya. Tapi, dia yakin masalah rezeki sudah ada Allah yang mengatur yang terpenting ia menambah tahfidz agar bisa keterima di pondok pesantren.
Disela-sela kesibukannya menuntut ilmu tak lepas dari Al-Quran, karena sebentar lagi ia akan mengikuti tes masuk pondok pesantren. Kini Al-Quran menjadi teman hidupnya, kemana pun ia pergi ke luar pasti selalu dibawa. Ayat demi ayat, surat demi surat kini sudah tak asing lagi di dengar. Baru satu juz yang ia hafal yaitu juz 30.
“Bu, Farihah sudah hafal juz 30,” ucap Farihah.
“Syukurlah, nak. Semoga kelak di akhirat nanti kamu jadi ahli syurga ya Nak!” sahut ibunya. Farihah pun mengangukan kepala dan memeluk ibunya. Tetapi kedua orangtuanya belum mengetahui niat baik Farihah untuk berpesantren.  Ada ketakutan tersendiri untuk meminta izin berpesantren. Melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.

Waktu terus bergulir, tes pun akan segera tiba. Kini saatnya Farihah meminta izin kepada kedua orangtuanya.
“Ya Rabb, berikan yang terbaik. Tunjukan jalan yang lurus ya Rabb,” ucap Farihah sambil memeluk Al-Quran.
Malam itu hujan deras, melihat situasi sepertinya cocok untuk mengobrol. Bapak yang sedang sibuk menonton pertandingan sepak bola, dan ibunya  sedang duduk beristirahat. Farihah pun keluar dari kamar dan langsung menghampiri ibunya.
“Bu, ada hal yang harus dibicarakan Farihah,” ucap Farihah.
“Iya, nak. Ada apa?” sahut ibu dengan mukanyanya yang terlihat lelah.
“Bu, Farihah ingin pesantren!” pinta Farihah.
Ibunya tercengang ketika mendengar anaknya ingin berpesantren. Bahkan seketika diam.
“Minta izinlah pada Bapakmu, nak.”
Entah apa yang ada dalam pikiran dan benak ibu. Rasa takut memenuhi perasaanya. Takut terkena marah oleh Bapaknya. Tapi, keadaan yang mendesak hingga Farihah berani meminta izin.
“Goallllllllllll.” Teriak Bapaknya yang sedang asik menonton sepak bola.
“Akhirnya, judiku menang!” teriak Bapaknya dengan kegirangan.
Farihah tercengang mendengarnya, ternyata uang yang didapatkan Bapaknya uang haram. Pikiran-pikiran negative pun bermunculan dalam otaknya. Tapi, bagaimana pun  juga Farihah harus meminta izin. Langkah demi langkah, ia menhampiri Bapaknya.
“Pak!” ucap Farihah. Bapaknya pun tak mendengar. Hingga yang ketiga kalinya baru Bapaknya menjawab.
“Ada apa?” jawab Bapaknya.
“Bolehkan Farihah bicara dengan Bapak?” pinta Farihah.
“Iya. Ada apa?” jawab Bapak.
“Pak, Farihah ingin berpesantren!”
“Biaya darimana?” jawabnya dengan nada yang tinggi.
“Insya Allah Pak kalau biaya dan reeeki sudah ada Allah yang mengatur,” jawab Farihah.
“Ya sudah. Minta saja biayanya sama Allah,” dengan datarnya ia menjawab.
“Mau jadi apa kalau kamu pesantren? Jadi ustadzah?” Tanya Bapaknya. Dan farihah pun tak mampu untuk menjawab.
“Tidak usah berpesantrenlah. Tuh lihat Ibumu yang sekolah dari pesanten. Hasilnya, ah nihil. Hanya kerja di dapur tidak bisa menghasilkan uang.” ucap Bapaknya.
 Farihah tak sanggup lagi untuk menjawab. Hanya mendengar celoteh yang keluar dari mulutnya. Tangisan air mata terus mengalir. Bapaknya tidak memberikan izin untuk berpesantren dan  menyarankan agar Farihah menikah dengan orang kaya agar hidupnya senang. Memang untuk Bapaknya harta jadi prioritas. Tak lama kemudian Ibunya menghapiri,
“Nak, tidak semua orang yang berpesantren itu baik. Baik buruknya manusia itu tergantung pada diri kita sendiri.  Percayalah nak, walaupun kamu tak pesantren, tapi kamu anak yang baik, yang selalu menghormati orangtua. Jaga sikap, sopan santun dan yang terpenting kuatkan imanmu,” Ibunya memberika pepatah.
Farihah, tak mampu menjawab. Hanya menangis. Memang keinginannya untuk berpesantren adalah mipinya sejak kecil.  Tak seperti biasanya, mendengar keputusan itu merasa terpuruk. Merasa bingung dan kesal. Farihah yang terlalu berharap kepada orangtua mewujudkan mimpinya, kini hanya rasa kesal yang mengisi dalam hati. Memang berharap pada makhluk akan menyesal, harusnya berharap kepada Sang Pencipta agar tak menyesal. Sesakan dalam dada memenuhi hati, rasanya ingin segera mengeluarkan jerit tangis ini.
Keesokan harinya, Farihah memutuskan mendaki gunung untuk menghilangkan rasa penat yang ada dalam fikiran dan hatinya Untuk mendapatkaan izin orangtua sanngatlah susah. Apalagi seorang perempuan, banyaklah rasa cemas apalagi ibunya. Farihah memutuskan berbohong  kepada kedua orangtuanya.
“Bapak, Ibu. Farihah harus ke Bandung karena ada kegiatan,” ucap Farihah.
“Kegiatan apa, nak?” Tanya Ibunya.
“Mewakili sekolah. Bu”
“Bagaimana Pak. Farihah harus punya bekal?,” ucap ibunya.
“Tidak usah Bu. Farihah punya uang.” Tempas Farihah.
Padahal Farihah tak memiliki banyak uang. Hanya cukup untuk di perjalanan. Uang dari Bapaknya pun ia tolak karena Farihah tahu uang didapatkannya hasil dari judi. Barang-barang yang akan dibawa langsung ia pesiapkan. Dan berpamitan kepada kedua orantuanya.
Farihah pun kembali ke Bandung. Gunung Artapela kini jadi sasaran di mana kaki ini berpijak dan mengibarkan sang saka Merah Putih. Tanggal 27 Agustus 2016 akan menjadi sanksi.  Setelah sampai di Bandung, dia pun mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke Gunung Artapela. Carrier 80 liter pun jadi beban di pundaknya. Tenda, raincoat, alat –alat masak sudah ia perisiapkan. Begitu pun dengan dirinya, bukan celana PDL yang ia pakai. Tapi rok dan hijab yang ia kenakan. Hijab tak jadi halangan untuk mewujudkan mimpinya. 
Di perjalanana membuat Farihah banyak bersyukur. Keindahan alam membuat ia takjub. Gunung-gunung yang menjulang tinggi dan pohon-pohon yang membuat kesejutan di dalam hati.
“Inilah ciptaan-Mu ya Rabb?” ucap Farihah. Teringat ayat al-quran surat Ar-Rahman “nikmat manakah yang kamu dustakan?”.inilah jawabnya. Setiba di puncak gunung. Ia langsung berteriak menjerit kesakitan mengeluarkan isi hatinya.
“Tuhan… kenapa hidup ini begini?” Tanya Farihah sambil menangis.
“Apakah ini takdir? Tunjukan jalan-Mu ya Rabb!” Farihah menangis sambil bersujud.
“De, ayo ikut upacara pengibaran Bendera!” ajak seorang perempuan yang memakai hijab. Farihah pun terkejut.
“Oh, iya.” Farihah pun menyetujui untuk mengikutinya. Ia tercengang melihatnya karena yang ia lihat rombongan santri yang akan melaksanakan upacara bendera. Syal yang mereka pakai adalah syal tahfidz dari pondok pesantren yang ia inginkan. Pengibaran sang saka Merah Putih pun berlangsung dengan khidmat.  Ketika sang Merah Putih dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan:
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu Ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka merdeka hiduplah Indonesia raya”
Air mata pun menetes, antara senang dan sedih. Inilah jawaban dari Sang Pencipta. Bukan pondok pesantren yang ia temui. Tapi, teras pesantren yang ia temui. Terimakasih Tuhan inilah jawaban-Mu. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar