Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Juni 2017

Sepanjang perjalanan Bandung-Garut sudah lima orang yang saya temui para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pengemis, anak jalanan, dsb. Hal ini Membuat saya cemas, khawatir, karenan semakin tinggi para PMKS semakin tinggi pula tingkat kejahatan. Lantas, banyak kejadian seperti pencopetan, atupun yang lainnya. Apalagi di kota-kota besar.  Hal ini sudah tak asing lagi.
Parahnya pada  bulan Ramdhan sekarang ini semakin merajalela. Mungkin menjadi PMKS memiliki keuntungan tersendiri, dan menjadi kecanduan. Padahal berbagai program dan bantuan sudah dilakukan oleh pemerintah ataupun lembaga sosial lainnya. Tapi, kenapa hal ini masih marak di lingkungan sekitar?.
Mungkin, tidak semua para PMKS tersentuh oleh pemerintah dan lembaga sosialnya. Bisa jadi karena keterbatasan baik itu anggaran ataupun tenaga kerja. Padahal penindakan PMKS sangat penting karena bersangkutan dengan kesejateraan dan keamanan masyarakat.
Secara kasat mata, padahal mereka mampu untuk bekerja. Mereka mejawab, “jaman sekarang  susah nyari kerja, satu juta dulu.”  Ini jawaban mereka lewat syair lagu yang dinyanyikan seorang pengamen.
Ya, Memang benar.  Saya tidak memunafikan diri. Tapi, yang paling penting adalah memperbaiki MENTALNNYA. Agar tidak menjadi mental yang harus dikasihasi, agar tidak menjadi mental peminta-minta. Kita pun sebagai masyarakat alangkah baiknya tidak memberi, karena itu membuat mereka malas. Memang memberi boleh-boleh saja tapi alangkah bijaknya jika kita bijak menyikapinya.


Minggu, 05 Maret 2017

SANTRI SIAP GUNA

      Banyak hikamh yang bisa saya pelajari dari diklat SSG (Santri Siap Guna). Memang kemarin adalah pekan ke-2 dalam pertemuan SSG. Tapi, hikmah yang sayaa rasakan sungguh luar biasa. Ini adalah ajang mendekatkan saya dengan Sang Kholik. Pembukaan diklat SSG ini dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2017, diawali dengan orientadi Medan yaitu dengan cara lari berkeliling terus dilanjukan dengan terjun ke sungai. Sungai yang terbilang "pembuangan masyarakat". Kotor, banyak sampah, bau, berbatu, bahkan airnya cukup deras. saya tak tahu apa nama air sungai itu yang jelas masih daerah pondok hijau, yang letaknya tak jauh dari pesantren DT. Ketika melintasi sungai, hanya bisa bertafakur. Ini tidak seberapa dibandingkan dosa-dosa yang saya sudah lakukan, mungkin lebih dari ini, kotor, berbau, dsb. 
    Hampir-hampir saja saya terbawa arus sungai. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan orang lain yang terkena banjir hingga banyak yang hanyut. Seberapa kerasnya mereka memperjuangkan agar tetap hidup, menyelamat diri, "ini hanya bagian kecil". Yang lebih menakjubkan dikala saya harus melintasi air terjun. Saya yang pada dasarnya tidak bisa renang memeberanikan diri untuk melintasinya. Airnya yang lumayan dalam dan hanya berpegang pada tali untuk melintas. Satu lintasan untuk menuju air terjun, Alhamdulilah sampai dengan selamat. Walaupun nafas saya yang mulai sesak. Melanjutkan lintasan untuk menuju tempat dari pusat air terjun ke tempat berkumpulnya seluruh santri. Nafas saya yang mulai tidak terkontrol untuk meilntas yang hanya berpegangan pada satu tali, bahkan tali yang ini tidak terbentang dengan kuat alias kendor, di tambah badan saya yang pendek yang tak sampai menuju dasar kolam. Tiba-tiba tali yang saya pegang terlepas. Saya hanya bisa pasrah, karena nafas pun sudah tak terkontrol dan banyaknya air yang masuk kedalam tubuh saya, di tambah tidak bisa renang dan kolamnya yang lumayan dalam. "Ya Allah, saya serahkan pada-Mu." Dengan badan saya yang tenggelam.
     Alhamdulliah Allah masih menyelamatkan saya, tiba-tiba di belakang ada teteh-teteh yang mengangkat saya ke atas hingga saya bisa bernafas. Walaupun badan sudah lelah. Dan tidak di sangka dengan izin Allah saya tiba di penyebrangan. Dan terdengar suara pelatih, "Berdiri! berdiri! cepat ambil air wudhu!."
saya pun berjalan dengan sekoyongan dan langsung mengambil air wudhu. Hikmah yang bisa saya ambil yaitu "Hanya Allah tempat meminta.". Allah tempat bergantung. Disaat posisi seperti itu, tak ada yang bisa membantu yang ada hanyalah pertolongan Allah Swt.  Saya membayangkan, bagaimana di akhirat kelak menyebrangi jembatan shirathal Mustaqim (jembatan setipis rambut di belah tujuh), yang ada hanyalah pertolongan Allah dan amal kita. Wallahualam :). 


Selasa, 17 Januari 2017

TBM GARUT


"Sahabat baik bagiku adalah seseorang yang menghadiahiku buku yang belum pernah kubaca". 
-Abraham Lincoln-.

Alhamdulilah acara peresmian pembukaan perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat SMP AL-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat berjalan dengan lancar. Pembukaan ini diresmikan oleh Kepla Sekolah SMP AL-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat (Bpk. Feri Sunandar, S.Sos.I), Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mangkurayat (Bpk. Tahmat Hermawan) dan koordinator Charity Generation (Muhammad Azis Dzikry). Peresmian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2017 di SMP AL-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat. Sementara jumlah buku yang terkumpul sekitar 823 buah buku. Buku yang diperoleh dari para donatur dan sebagian dari penerbit. Acaranya semakin meriah karena acarana ini di dukung oleh relawan dari Jepang yang bernama Hiroko Yamai dan Mitsuko yang memberikan sambutan dan memotivasi agar selalu membaca. 
Volunteer Charity Generation

Siswa-siswa SMP Al-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat

Perpustakaan SMP Al-Falaah Muhammadiyaah Mangkurayat

Senin, 16 Januari 2017

CARGER: CARITY GENERATION SEBAGAI MEDIA UNTUK MENINGKATKAN DAYA LITERASI DI DESA MANGKURAYAT KECAMATAN CILAWU KABUPATEN GARUT

Desa Mangkurayat terletak di Kecamatan Cilawu Kabupaten Garut. Memiliki luas wilayah 280.084 Ha, luas sawah 137.200 Ha,  luas darat  134.100 Ha,  luas pemukiman 93.800 Ha dengan jumlah penduduk  9391 jiwa[1]. Sebagian besar mata pencaharian di desa tersebut sebagai petani dan buruh pabrik di perusahaan asing. Desa Mangkurayat dikatakan masih tertinggal. Dengan pertimbangan, kesadaran akan pendidikan masih rendah dan tingginya angka putus sekolah sehingga menyebabkan angka pengangguran meningkat. Rendahnya sumber daya alam manusia menjadi penyebab angka pengangguran tinggi.
Ketertinggalan Garut pada bidang pendidikan tersebut dilihat dari rata-rata lama sekolah penduduk Garut saat ini berdasarkan data indikator makro Kabupaten Garut hanya sampai kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebesar 60% penduduk Garut hanya berpendidikan tamatan Sekolah Dasar (SD). Padahal fasilitas pendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama sudah tersebar di mana-mana. Data Kantor Pusat Statistik/Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut mencatat, pada 2012 rata-rata lama sekolah penduduk Garut masih 7,59 tahun, meningkat tipis dibandingkan 2011 lalu selama 7,37 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Garut menjelang dua abad usia Kabupaten Garut ini hanya bisa tamat SD[2].
 Hal ini berdampak pada tingkat budaya literasi di Kabupeten Garut yang masih rendah. Jumlah penduduk yang memiliki minat baca hanya sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Garut sebanyak 2,4 juta jiwa. “Minat baca masyarakat ini masih jauh dari standar nasional dan provinsi,” ujar Kepala Kantor Perpustakaan Daerah Garut Wawan Nurdin, Selasa, 24 Mei 2011[3]. Rendahnya minat baca disebabkan masyarakat  yang lebih memilih gemar menonton dibandingkan membaca dan menulis sehingga timbul generasi penonton.
Tradisi budaya lokal kita adalah budaya lisan (orality), bukan budaya tulis. Hal itu membuat penyimpanan gagasan, dan pengetahuan hanya terjadi di dalam hapalan ingatan semata. Selain itu, Kurangnya sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat akan pentingnya membaca dan fasilitas perpustakaan di wilayahnya masih kurang sehingga menyebabkan rendahnya literasi di Kabupaten Garut.  Wawan Nurdin Kepala Perpustakaan Daerah Garut mengatakan bahwa “Anggaran kita untuk perpustakaan ini hanya sebesar Rp 35 juta, tidak sebanding dengan jumlah sekolah dan penduduk yang ada[4].
Akibat yang ditimbulkan jika permasalahan ini dibiarkan Kabupaten Garut sulit untuk keluar dari status daerah tertinggal di Indonesia dan menyebabkan anak kehilangan daya kritis sekaligus menurunkan motivasi untuk belajar. Bahkan berdampak pada peningkatan angka pengangguran. Efek lebih lanjut adalah semakin miskinnya koleksi karya-karya. Padahal literasi sendiri menjadi jantung sebuah pendidikan dan mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, di mana pada ahirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia.
Budaya literasi harus terus dikembangkan karena salah satu peninggalan budaya sejak zaman dahulu kala bahkan zaman para nabi yang telah di bersihkan racunnya dari zaman ke zaman jadi kita hanya tinggal melestarikannya . Namun bukan berarti tidak boleh dan tidak dapat memoderenisasikan sesuatu di zaman sekarang. Kita hanya perlu mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dimoderenisasi dan hal apa yang tidak perlu. Hal-hal yang perlu dimoderenisasi adalah seperti teknologi dan kecanggihan dalam menggunakannya, namun harus pula menyaring virus yang dibawanya agar sifat zoon politicon tetap hidup dan menekan sifat homo homini lupus.
Tak bisa dipungkiri saat ini harus bisa menemukan teknologi terbarukan dan harus pula paham cara menggunakannya agar kita tidak ditelan zaman. Adapun hal-hal yang harusnya dibiarkan saja tanpa harus dilakukan moderenisasi selain budaya literasi adalah sifat kebaikan manusia serta nilai-nilai baik yang telah diterapkan dari dahulu zaman-zaman sebelumnya, karena hal ini telah seharusnya disharing oleh para pendahulu kita setiap racunnya jadi kita tinggal menerapkan dan memilah mana yang patut dan mana yang tidak patut digunakan.
Pentingnya budaya literasi dalam kehidupan masyarakat yaitu dapat menambah dan memperluas wawasan dan pengetahuan, memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah, mempertajam tingkat pemikiran, memiliki sikap objektif terhadap masalah, dan selalu mementingkan fakta dan infomasi. Sehingga dapat meninngkatkan kecerdasan bangsa, membuka jendela dunia dan pendidikan di Indonesia semakin maju.
Sebagai wujud dari kepedulian terhadap dunia pendidikan dan pentingnya pengetahuan yang lebih kompleks bagi generasi-generasi muda, mahasiswa kabupaten Garut yang berjumlah lima orang dari berbagai universitas di luar Garut  berusaha mencari wadah yang ideal untuk menampung kepedulian ini. Ide-ide kreatif dan simpatik yang diwujudkan melalui  CarGer (Carity Generation).
Komunitas ini merupakan salah satu media/wadah yang berinisiatif meningkatkan minat dan cinta terhadap buku dan bacaan dengan memanfaatkan sumber daya manusia di kalangan generasi muda terutama anak-anak di desa Mangkurayat Kabupaten Garut. Carger merupakan sebuah Komunitas Muda Peduli, yang mengkampanyekan budaya membaca, menulis dan mengasah bakat anak. Sasaran komunitas ini yaitu pelajar terutama anak yang tidak sekolah atau putus sekolah. 
Terdapat beberapa hambatan dalam mendirikan komunitas Carger ini diantaranya membutuhkan proses yang panjang untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan ataupun menulis dan membaca. Kecemasan lebih dalam yaitu ketersedian tempat. Sehingga, menimbulkan ketidakefektifan dalam proses pembelajaran dan  menghambat dalam penyimpanan buku yang telah digalang.
Gerakan literasi merupakan salah satu program pendidikan non-formal dan dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa serta usaha melestarikan program pendidikan non-formal melalui salah satu program pemberdayaan masyarakat dengan pengembangan gerakan literasi serta pengembangan budaya baca pada masyarakat akan peningkatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih baik dan berarah pada progres atas kehidupan serta berkepribadian, baik pribadi, kelompok maupun dalam bermasyarakat[5]. Hal ini bersangkutan dengan perdaban suatu bangsa yang ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di hasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, sedangkan ilmu pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan semakin tinggi peradabannya [6].
Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk. Haryanti (2015) menyebutkan ada banyak cara untuk membentuk budaya literasi diantaranya (dekat, mudah, murah, senang, lanjut), 1) Pendekatan akses fasilitas baca (buku dan non buku), 2) Kemudahan akses mendapatkan bahan bacaan, 3) Murah/tanpa biaya (gratis), 4) Menyenangkan dengan segala keramahan, 5) Keberlanjutan /Continue [7].
Carger memiliki konsep yang berbeda dengan komunitas yang lain sehingga unik yaitu dengan memperdayakan masyarakat yang tidak melanjutkan sekolah dan tidak memiliki pekerjaan untuk mengelola komunitas dengan memberikan pembekalan pelatihan menulis, meningkatkan minat baca dan mengembangkan bakat yang dilakukan selama dua minggu sekali. Pemateri didatangkan langsung oleh ahli sehingga diharapkan bisa meningkatkan mutu pendidikan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Setelah dilakukan pembekalan pada masyarakat diwajibkan untuk diaplikasikan kepada anak-anak yang putus sekolah ataupun tidak sekolah. Adapun tempat pelaksanaan yaitu di alam terbuka karena keterbatasan tempat yang belum tersedia. Pembelajaran berlangsung selama tiga jam/minggu. Dengan jumlah anak 40 orang anak. Sistem pembelajaran yang dilakukan yaitu dengan sistem regu untuk membedakan jenjang pendidikan terutama untuk pelajar yang putus sekolah.
Mitra untuk membantu komunitas Carger di antaranya berkerjasama dengan penerbit buku untuk penggalangan buku dan penggalang dana dari donator baik itu mahasiswa ataupun masyarakat umum. Salah satu keuntungan sebagai donator yaitu sebagai media patner dan sebagai ajang promosi terutama untuk beberapa perusahaan yang baru berkembang. Sedangkan tugas volunteer Carger yaitu menyiapkan acara, mengelola keuangan, mencari donator, memberikan intensif untuk masyarakat yang mengelola komunitas dan mengawasi perkembangan anak ataupun komunitas.  Jika dilakukan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, treatment) terhadap komunitas Carger (Carity generation);
a) Strenght : Carity Generation (Carger) bisa berjalan  apabila antara elemen masyarakat dan volunteer carger bisa bekerja sama team work dengan asas saling keterbukaan. Selain itu karena diberikannya pelatihan menulis dan pelatihan pengembangan bakat dapat menghasilkan cetakan unggulan, baik itu prestasi akademik maupun non akademik. Carger memiliki konsep yang unik yaitu melibatkan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan untuk mengelola komunitas sehingga angka penganguran di desa Mangkurayat menurun. Proses pembelajaran dilakukan belajar sambil bermain agar tidak menimbulkaan kejenuhan. Dengan meningkatan budaya membaca dapat menambah wawasan dan memangkas buta menulis dan membaca. Sehingga dapat mengembangkan pribadi yang sukses dan mandiri. Selain itu, yang menjadi volunteer akan mempublish hasil tulisan setiap anak baik itu dibukukan ataupun diperlombakan agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat;
 b) Weakness   : Beberapa kecemasan lebih dalam yaitu ketersedian tempat. Sehingga, smenimbulkan ketidakefektifan dalam proses pembelajaran dan  menghambat dalam penyimpanan buku yang telah digalang. Selain itu,  upaya untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan ataupun menulis dan membaca menjadi hambatan karena membutuhkan proses yang panjang;
c) Opportunities : Tingginya keinginan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini dan memberikan sumbangan berupa buku-buku, sehingga buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik. Adapun dari kegiatan ini mencari sponsor untuk memudahkan dan bisa bekerja sama dengan pihak lain, dan membuka para donatur yang ingin memberikan sumbangan;
d) Treat          : Hambatan dalam kegiatan ini tidak selamanya orang-orang yang ikut berpartisipasi tetap bertahan, akan tetapi ada saja orang yang mengundurkan diri/tidak melakukan  follow up sehingga SDM yang dibutuhkan berkurang dan menyebabkan kurang berjalannya kegiatan. Selain itu, hanbatan lainnya yaitu kurang terealisasinya dana yang diberikan untuk kegiatan ini.
Dengan sering membaca, dengan secara tidak sadar akan mengalir pengetahuan walaupun sedikit akan menjadi bukit, dampaknya akan dirasakan menuntun untuk menguasai dunia dengan ilmu pengetahuan yang berguna. Dengan adanya sinergi semacam ini berharap budaya literasi yang merupakan ciri khas pelajar dapat kembali melekat.
Dengan adanya Carity Generation  diharapkan menghasilkan generasi emas yang dapat ikut mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa, meningkatkan budaya membaca dan menulis, mengembangkan bakat setiap anak, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sehingga tingkat pendidikan meningkat dan mengurangi angka penganguran terutama di Desa Mangkurayat Kabupaten Garut.







[2] Zainulmukhtar, Teten Prihatin Kondisi Pendidikan di Garut, diakses dari http://m.inilah.com/news/detail/1949386/teten-prihatin-kondisi-pendidikan-di-garut.html, pada 20 Januari 2013 pukul 20:49
[3] Tony Hartawan, Minat Baca Masyarakat Garut Rendah, diakses dari https://m.tempo.co/read/news/2011/05/24/178336424/minat-baca-masyarakat-garut-rendah Pada Selasa, 24 Mei 2011 | 15:24 WIB
[4] Tony Hartawan, Minat Baca Masyarakat Garut Rendah, diakses dari https://m.tempo.co/read/news/2011/05/24/178336424/minat-baca-masyarakat-garut-rendah, Pada Selasa, 24 Mei 2011 | 15:24 WIB
[5]Permatasari, Pemberdayaan komunitas lokal, diakses dari  file:///D:/Data%20oenelitian/Pemberdayaan%20Komunitas%20Lokal.html, pada 12 februari 2016 pukul
[6]Sularso, Gerakan Permasyarakatan Minat Baca, diakses dari http://gpmb.perpusnas.go.id/index.php?module=artikel_kepustakaan&id=42, pada Selasa, 24 Mei 2011 | 15:24 WIB

[7] Trini Haryanti, Membangung Budaya Literasi dengan Pendekatan Kultural di Komunitas Adat, diakses dari http://www.triniharyanti.id/2014/02/membangun-budaya-literasi-dengan.html,  pada Senin, 17 Februari 2014


Rabu, 11 Januari 2017

Kakak-Adik


Kenapa kita ditakdirkan menjadi sepasang adik dan kakak?
Inilah yang dinamakan takdir. Kita tak ada yang meminta untuk menjadi sepasang adik dan kaka. Hadir di dunia ini untuk saling melengkapi. Perbedaan karakter antara satu saudara dengan saudara yang lain itulah yang menjadi pelengkap.
Adikku bernama Tami Pertiwi yang sekarang sedang duduk di SMA kelas IX. Memiliki karakter yang berbeda dengan saya. Muslim, cantik, pendiam itulah bagian dari karakternya. Berbeda dengan saya yang agak tomboy dan cerewet tapi tetep cantikan saya (GR).

Selasa, 10 Januari 2017

Charity Generation Garut

Fachry RKT- Leni Anggraeni- Yusi Herdiyanti
                                  Inilah wajah-wajah relawan dari komunitas Charity Generation (Charger).
 Komunitas yang dibentuk ketika kami sedang menginjak SMA dan dipertemukan di sebuah bimbingan beasiswa yaitu LazisMu Garut. Kami dibimbing mulai dari pengetahuan, pengalaman-pengalaman orang yang hebat yang memotivasi kita agar terus bangkit hingga implementasi kepada masyarakat. Bahkan, kami dibimbing dalam mengikuti beasiswa untuk ke perguruan tinggi. Dan, Alhamdulilah lulusannya pun di berbagi universitas. Karena kami sudah lulus dari beasiswa ini dan kembali berkumpul membentuk sebuah komunitas yaitu Charity Generation (Generasi Peduli), peduli pendidikan, sosial, kesehatan, dsb. Oranglain peduli kepada kita dan kita pun harus peduli kepada oranglain. 

kami ingin oranglain lebih baik dari kita. Memberikan apa yang bisa kita bantu. Terimakasih #LazismuGarut

Kegiatan yang dilakukan ketika liburan semester.
Tahun 2016 diselenggarakannya seminar training motivasi di SMK Muhammadiyah Garut. Alhamdulilah acaranya berjalan dengan lancar. dengan jumlah peserta kurang lebih 50 orang dengan bebrapa materi diantranya how to be confidence, teknologi, dan ice breaking. 


Peserta Seminar yang mendapatkan hadiah buku

Selain itu, ada acara bakti sosial yang diselenggarakan di Panti Asuhan Harapan Bangsa yang ada di Bayongbong Kabuopaten Garut.
 (Acara Bakti Sosial)

Dan diawal tahun ini 2017 akan dilaksanakan Pendirian Taman Baca Masyarakata sekaligus Perpustakaan di SMP Al-Falah Desa Mangkurayat Kecamatan Cilawu.



TANPA BATAS SPASI


Kisah ini merupakan potongan-potongan episode dari alur cerita yang masih panjang, mencoba dikumpulkan satu persatu agar apik untuk nanti dikenang.
-Lisna Anggraeni
Sore kali ini, ditemani dengan mendungnya Bandung tak menyurutkan kami untuk terus menuntut ilmu. Kali ini Tanpa Batas Spasi memilih Alun-Alun Bandung sebagai destinasi belajar. Dengan suasana belajar yang baru, berharap mendapatkan inspirasi. Kami, Lisna Anggraeni, Abdullatip dan Leni Anggraeni dimentori oleh Kak Ardi Rizkia Farahengki mencoba belajar dan berdiskusi tentang kepenulisan ilmiah. Kami memilih beliau sebagai mentor, karena sudah banyak prestasi di bidang kepenulisan ilmiah yang dia dapat.

Inilah wajah kami yang terlihat lapar 
Samping kiri: Leni Anggraeni- Ardi Rizkia, Lisna Anggraeni

Program Tanpa Batas Spasi kali ini memang sedang menggencar-gencarkan belajar dan membuat karya tulis ilmiah kepada setiap anggotanya. Kami melatih daya kritis dan berfikir kreatif melalui diskusi-diskusi yang semi non-formal hingga akhirnya berhasil menghasilkan ide dan mengolahnya menjadi sebuah tulisan.
Pelatihan menulis Abstrak
Pict: Abdullatip dan Leni Anggraeni

Melalui kegiatan ini diharapkan bisa menularkan kebiasaan menulis. Karena bagi kami menulis merupakan hasil implementasi daya literasi seluruh ilmu yang dimiliki. Dan semoga, kebiasaan ini bisa menular kepada anak muda, dan menerapkan konsep bahwa belajar tidak hanya terpaku dengan buku dan ruang kelas. Belajar adalah situasi dimana kita nyaman mendapat ilmu dan mengaplikasikannya.
Learn its enjoy!

Salah satu stasiun TV lokal di Bandung meliput kegiatan kami belakang itu para reporter. Depan kiri: Ardi Rizkia Farahengki, Abdullatip, Lisna Anggraeni, Leni Anggraeni
Terima kasih kepada beberapa pihak yang telah mendukung komunitas Tanpa Batas Spasi dan teruntuk mentor kami ka Ardi Rizkia Farahengki yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing kami.