Total Tayangan Halaman

Selasa, 17 Januari 2017

TBM GARUT


"Sahabat baik bagiku adalah seseorang yang menghadiahiku buku yang belum pernah kubaca". 
-Abraham Lincoln-.

Alhamdulilah acara peresmian pembukaan perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat SMP AL-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat berjalan dengan lancar. Pembukaan ini diresmikan oleh Kepla Sekolah SMP AL-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat (Bpk. Feri Sunandar, S.Sos.I), Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mangkurayat (Bpk. Tahmat Hermawan) dan koordinator Charity Generation (Muhammad Azis Dzikry). Peresmian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2017 di SMP AL-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat. Sementara jumlah buku yang terkumpul sekitar 823 buah buku. Buku yang diperoleh dari para donatur dan sebagian dari penerbit. Acaranya semakin meriah karena acarana ini di dukung oleh relawan dari Jepang yang bernama Hiroko Yamai dan Mitsuko yang memberikan sambutan dan memotivasi agar selalu membaca. 
Volunteer Charity Generation

Siswa-siswa SMP Al-Falaah Muhammadiyah Mangkurayat

Perpustakaan SMP Al-Falaah Muhammadiyaah Mangkurayat

Senin, 16 Januari 2017

CARGER: CARITY GENERATION SEBAGAI MEDIA UNTUK MENINGKATKAN DAYA LITERASI DI DESA MANGKURAYAT KECAMATAN CILAWU KABUPATEN GARUT

Desa Mangkurayat terletak di Kecamatan Cilawu Kabupaten Garut. Memiliki luas wilayah 280.084 Ha, luas sawah 137.200 Ha,  luas darat  134.100 Ha,  luas pemukiman 93.800 Ha dengan jumlah penduduk  9391 jiwa[1]. Sebagian besar mata pencaharian di desa tersebut sebagai petani dan buruh pabrik di perusahaan asing. Desa Mangkurayat dikatakan masih tertinggal. Dengan pertimbangan, kesadaran akan pendidikan masih rendah dan tingginya angka putus sekolah sehingga menyebabkan angka pengangguran meningkat. Rendahnya sumber daya alam manusia menjadi penyebab angka pengangguran tinggi.
Ketertinggalan Garut pada bidang pendidikan tersebut dilihat dari rata-rata lama sekolah penduduk Garut saat ini berdasarkan data indikator makro Kabupaten Garut hanya sampai kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebesar 60% penduduk Garut hanya berpendidikan tamatan Sekolah Dasar (SD). Padahal fasilitas pendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama sudah tersebar di mana-mana. Data Kantor Pusat Statistik/Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut mencatat, pada 2012 rata-rata lama sekolah penduduk Garut masih 7,59 tahun, meningkat tipis dibandingkan 2011 lalu selama 7,37 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Garut menjelang dua abad usia Kabupaten Garut ini hanya bisa tamat SD[2].
 Hal ini berdampak pada tingkat budaya literasi di Kabupeten Garut yang masih rendah. Jumlah penduduk yang memiliki minat baca hanya sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Garut sebanyak 2,4 juta jiwa. “Minat baca masyarakat ini masih jauh dari standar nasional dan provinsi,” ujar Kepala Kantor Perpustakaan Daerah Garut Wawan Nurdin, Selasa, 24 Mei 2011[3]. Rendahnya minat baca disebabkan masyarakat  yang lebih memilih gemar menonton dibandingkan membaca dan menulis sehingga timbul generasi penonton.
Tradisi budaya lokal kita adalah budaya lisan (orality), bukan budaya tulis. Hal itu membuat penyimpanan gagasan, dan pengetahuan hanya terjadi di dalam hapalan ingatan semata. Selain itu, Kurangnya sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat akan pentingnya membaca dan fasilitas perpustakaan di wilayahnya masih kurang sehingga menyebabkan rendahnya literasi di Kabupaten Garut.  Wawan Nurdin Kepala Perpustakaan Daerah Garut mengatakan bahwa “Anggaran kita untuk perpustakaan ini hanya sebesar Rp 35 juta, tidak sebanding dengan jumlah sekolah dan penduduk yang ada[4].
Akibat yang ditimbulkan jika permasalahan ini dibiarkan Kabupaten Garut sulit untuk keluar dari status daerah tertinggal di Indonesia dan menyebabkan anak kehilangan daya kritis sekaligus menurunkan motivasi untuk belajar. Bahkan berdampak pada peningkatan angka pengangguran. Efek lebih lanjut adalah semakin miskinnya koleksi karya-karya. Padahal literasi sendiri menjadi jantung sebuah pendidikan dan mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, di mana pada ahirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia.
Budaya literasi harus terus dikembangkan karena salah satu peninggalan budaya sejak zaman dahulu kala bahkan zaman para nabi yang telah di bersihkan racunnya dari zaman ke zaman jadi kita hanya tinggal melestarikannya . Namun bukan berarti tidak boleh dan tidak dapat memoderenisasikan sesuatu di zaman sekarang. Kita hanya perlu mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dimoderenisasi dan hal apa yang tidak perlu. Hal-hal yang perlu dimoderenisasi adalah seperti teknologi dan kecanggihan dalam menggunakannya, namun harus pula menyaring virus yang dibawanya agar sifat zoon politicon tetap hidup dan menekan sifat homo homini lupus.
Tak bisa dipungkiri saat ini harus bisa menemukan teknologi terbarukan dan harus pula paham cara menggunakannya agar kita tidak ditelan zaman. Adapun hal-hal yang harusnya dibiarkan saja tanpa harus dilakukan moderenisasi selain budaya literasi adalah sifat kebaikan manusia serta nilai-nilai baik yang telah diterapkan dari dahulu zaman-zaman sebelumnya, karena hal ini telah seharusnya disharing oleh para pendahulu kita setiap racunnya jadi kita tinggal menerapkan dan memilah mana yang patut dan mana yang tidak patut digunakan.
Pentingnya budaya literasi dalam kehidupan masyarakat yaitu dapat menambah dan memperluas wawasan dan pengetahuan, memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah, mempertajam tingkat pemikiran, memiliki sikap objektif terhadap masalah, dan selalu mementingkan fakta dan infomasi. Sehingga dapat meninngkatkan kecerdasan bangsa, membuka jendela dunia dan pendidikan di Indonesia semakin maju.
Sebagai wujud dari kepedulian terhadap dunia pendidikan dan pentingnya pengetahuan yang lebih kompleks bagi generasi-generasi muda, mahasiswa kabupaten Garut yang berjumlah lima orang dari berbagai universitas di luar Garut  berusaha mencari wadah yang ideal untuk menampung kepedulian ini. Ide-ide kreatif dan simpatik yang diwujudkan melalui  CarGer (Carity Generation).
Komunitas ini merupakan salah satu media/wadah yang berinisiatif meningkatkan minat dan cinta terhadap buku dan bacaan dengan memanfaatkan sumber daya manusia di kalangan generasi muda terutama anak-anak di desa Mangkurayat Kabupaten Garut. Carger merupakan sebuah Komunitas Muda Peduli, yang mengkampanyekan budaya membaca, menulis dan mengasah bakat anak. Sasaran komunitas ini yaitu pelajar terutama anak yang tidak sekolah atau putus sekolah. 
Terdapat beberapa hambatan dalam mendirikan komunitas Carger ini diantaranya membutuhkan proses yang panjang untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan ataupun menulis dan membaca. Kecemasan lebih dalam yaitu ketersedian tempat. Sehingga, menimbulkan ketidakefektifan dalam proses pembelajaran dan  menghambat dalam penyimpanan buku yang telah digalang.
Gerakan literasi merupakan salah satu program pendidikan non-formal dan dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa serta usaha melestarikan program pendidikan non-formal melalui salah satu program pemberdayaan masyarakat dengan pengembangan gerakan literasi serta pengembangan budaya baca pada masyarakat akan peningkatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih baik dan berarah pada progres atas kehidupan serta berkepribadian, baik pribadi, kelompok maupun dalam bermasyarakat[5]. Hal ini bersangkutan dengan perdaban suatu bangsa yang ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di hasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, sedangkan ilmu pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan semakin tinggi peradabannya [6].
Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk. Haryanti (2015) menyebutkan ada banyak cara untuk membentuk budaya literasi diantaranya (dekat, mudah, murah, senang, lanjut), 1) Pendekatan akses fasilitas baca (buku dan non buku), 2) Kemudahan akses mendapatkan bahan bacaan, 3) Murah/tanpa biaya (gratis), 4) Menyenangkan dengan segala keramahan, 5) Keberlanjutan /Continue [7].
Carger memiliki konsep yang berbeda dengan komunitas yang lain sehingga unik yaitu dengan memperdayakan masyarakat yang tidak melanjutkan sekolah dan tidak memiliki pekerjaan untuk mengelola komunitas dengan memberikan pembekalan pelatihan menulis, meningkatkan minat baca dan mengembangkan bakat yang dilakukan selama dua minggu sekali. Pemateri didatangkan langsung oleh ahli sehingga diharapkan bisa meningkatkan mutu pendidikan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Setelah dilakukan pembekalan pada masyarakat diwajibkan untuk diaplikasikan kepada anak-anak yang putus sekolah ataupun tidak sekolah. Adapun tempat pelaksanaan yaitu di alam terbuka karena keterbatasan tempat yang belum tersedia. Pembelajaran berlangsung selama tiga jam/minggu. Dengan jumlah anak 40 orang anak. Sistem pembelajaran yang dilakukan yaitu dengan sistem regu untuk membedakan jenjang pendidikan terutama untuk pelajar yang putus sekolah.
Mitra untuk membantu komunitas Carger di antaranya berkerjasama dengan penerbit buku untuk penggalangan buku dan penggalang dana dari donator baik itu mahasiswa ataupun masyarakat umum. Salah satu keuntungan sebagai donator yaitu sebagai media patner dan sebagai ajang promosi terutama untuk beberapa perusahaan yang baru berkembang. Sedangkan tugas volunteer Carger yaitu menyiapkan acara, mengelola keuangan, mencari donator, memberikan intensif untuk masyarakat yang mengelola komunitas dan mengawasi perkembangan anak ataupun komunitas.  Jika dilakukan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, treatment) terhadap komunitas Carger (Carity generation);
a) Strenght : Carity Generation (Carger) bisa berjalan  apabila antara elemen masyarakat dan volunteer carger bisa bekerja sama team work dengan asas saling keterbukaan. Selain itu karena diberikannya pelatihan menulis dan pelatihan pengembangan bakat dapat menghasilkan cetakan unggulan, baik itu prestasi akademik maupun non akademik. Carger memiliki konsep yang unik yaitu melibatkan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan untuk mengelola komunitas sehingga angka penganguran di desa Mangkurayat menurun. Proses pembelajaran dilakukan belajar sambil bermain agar tidak menimbulkaan kejenuhan. Dengan meningkatan budaya membaca dapat menambah wawasan dan memangkas buta menulis dan membaca. Sehingga dapat mengembangkan pribadi yang sukses dan mandiri. Selain itu, yang menjadi volunteer akan mempublish hasil tulisan setiap anak baik itu dibukukan ataupun diperlombakan agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat;
 b) Weakness   : Beberapa kecemasan lebih dalam yaitu ketersedian tempat. Sehingga, smenimbulkan ketidakefektifan dalam proses pembelajaran dan  menghambat dalam penyimpanan buku yang telah digalang. Selain itu,  upaya untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan ataupun menulis dan membaca menjadi hambatan karena membutuhkan proses yang panjang;
c) Opportunities : Tingginya keinginan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini dan memberikan sumbangan berupa buku-buku, sehingga buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik. Adapun dari kegiatan ini mencari sponsor untuk memudahkan dan bisa bekerja sama dengan pihak lain, dan membuka para donatur yang ingin memberikan sumbangan;
d) Treat          : Hambatan dalam kegiatan ini tidak selamanya orang-orang yang ikut berpartisipasi tetap bertahan, akan tetapi ada saja orang yang mengundurkan diri/tidak melakukan  follow up sehingga SDM yang dibutuhkan berkurang dan menyebabkan kurang berjalannya kegiatan. Selain itu, hanbatan lainnya yaitu kurang terealisasinya dana yang diberikan untuk kegiatan ini.
Dengan sering membaca, dengan secara tidak sadar akan mengalir pengetahuan walaupun sedikit akan menjadi bukit, dampaknya akan dirasakan menuntun untuk menguasai dunia dengan ilmu pengetahuan yang berguna. Dengan adanya sinergi semacam ini berharap budaya literasi yang merupakan ciri khas pelajar dapat kembali melekat.
Dengan adanya Carity Generation  diharapkan menghasilkan generasi emas yang dapat ikut mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa, meningkatkan budaya membaca dan menulis, mengembangkan bakat setiap anak, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sehingga tingkat pendidikan meningkat dan mengurangi angka penganguran terutama di Desa Mangkurayat Kabupaten Garut.







[2] Zainulmukhtar, Teten Prihatin Kondisi Pendidikan di Garut, diakses dari http://m.inilah.com/news/detail/1949386/teten-prihatin-kondisi-pendidikan-di-garut.html, pada 20 Januari 2013 pukul 20:49
[3] Tony Hartawan, Minat Baca Masyarakat Garut Rendah, diakses dari https://m.tempo.co/read/news/2011/05/24/178336424/minat-baca-masyarakat-garut-rendah Pada Selasa, 24 Mei 2011 | 15:24 WIB
[4] Tony Hartawan, Minat Baca Masyarakat Garut Rendah, diakses dari https://m.tempo.co/read/news/2011/05/24/178336424/minat-baca-masyarakat-garut-rendah, Pada Selasa, 24 Mei 2011 | 15:24 WIB
[5]Permatasari, Pemberdayaan komunitas lokal, diakses dari  file:///D:/Data%20oenelitian/Pemberdayaan%20Komunitas%20Lokal.html, pada 12 februari 2016 pukul
[6]Sularso, Gerakan Permasyarakatan Minat Baca, diakses dari http://gpmb.perpusnas.go.id/index.php?module=artikel_kepustakaan&id=42, pada Selasa, 24 Mei 2011 | 15:24 WIB

[7] Trini Haryanti, Membangung Budaya Literasi dengan Pendekatan Kultural di Komunitas Adat, diakses dari http://www.triniharyanti.id/2014/02/membangun-budaya-literasi-dengan.html,  pada Senin, 17 Februari 2014


Rabu, 11 Januari 2017

Kakak-Adik


Kenapa kita ditakdirkan menjadi sepasang adik dan kakak?
Inilah yang dinamakan takdir. Kita tak ada yang meminta untuk menjadi sepasang adik dan kaka. Hadir di dunia ini untuk saling melengkapi. Perbedaan karakter antara satu saudara dengan saudara yang lain itulah yang menjadi pelengkap.
Adikku bernama Tami Pertiwi yang sekarang sedang duduk di SMA kelas IX. Memiliki karakter yang berbeda dengan saya. Muslim, cantik, pendiam itulah bagian dari karakternya. Berbeda dengan saya yang agak tomboy dan cerewet tapi tetep cantikan saya (GR).

Selasa, 10 Januari 2017

Charity Generation Garut

Fachry RKT- Leni Anggraeni- Yusi Herdiyanti
                                  Inilah wajah-wajah relawan dari komunitas Charity Generation (Charger).
 Komunitas yang dibentuk ketika kami sedang menginjak SMA dan dipertemukan di sebuah bimbingan beasiswa yaitu LazisMu Garut. Kami dibimbing mulai dari pengetahuan, pengalaman-pengalaman orang yang hebat yang memotivasi kita agar terus bangkit hingga implementasi kepada masyarakat. Bahkan, kami dibimbing dalam mengikuti beasiswa untuk ke perguruan tinggi. Dan, Alhamdulilah lulusannya pun di berbagi universitas. Karena kami sudah lulus dari beasiswa ini dan kembali berkumpul membentuk sebuah komunitas yaitu Charity Generation (Generasi Peduli), peduli pendidikan, sosial, kesehatan, dsb. Oranglain peduli kepada kita dan kita pun harus peduli kepada oranglain. 

kami ingin oranglain lebih baik dari kita. Memberikan apa yang bisa kita bantu. Terimakasih #LazismuGarut

Kegiatan yang dilakukan ketika liburan semester.
Tahun 2016 diselenggarakannya seminar training motivasi di SMK Muhammadiyah Garut. Alhamdulilah acaranya berjalan dengan lancar. dengan jumlah peserta kurang lebih 50 orang dengan bebrapa materi diantranya how to be confidence, teknologi, dan ice breaking. 


Peserta Seminar yang mendapatkan hadiah buku

Selain itu, ada acara bakti sosial yang diselenggarakan di Panti Asuhan Harapan Bangsa yang ada di Bayongbong Kabuopaten Garut.
 (Acara Bakti Sosial)

Dan diawal tahun ini 2017 akan dilaksanakan Pendirian Taman Baca Masyarakata sekaligus Perpustakaan di SMP Al-Falah Desa Mangkurayat Kecamatan Cilawu.



TANPA BATAS SPASI


Kisah ini merupakan potongan-potongan episode dari alur cerita yang masih panjang, mencoba dikumpulkan satu persatu agar apik untuk nanti dikenang.
-Lisna Anggraeni
Sore kali ini, ditemani dengan mendungnya Bandung tak menyurutkan kami untuk terus menuntut ilmu. Kali ini Tanpa Batas Spasi memilih Alun-Alun Bandung sebagai destinasi belajar. Dengan suasana belajar yang baru, berharap mendapatkan inspirasi. Kami, Lisna Anggraeni, Abdullatip dan Leni Anggraeni dimentori oleh Kak Ardi Rizkia Farahengki mencoba belajar dan berdiskusi tentang kepenulisan ilmiah. Kami memilih beliau sebagai mentor, karena sudah banyak prestasi di bidang kepenulisan ilmiah yang dia dapat.

Inilah wajah kami yang terlihat lapar 
Samping kiri: Leni Anggraeni- Ardi Rizkia, Lisna Anggraeni

Program Tanpa Batas Spasi kali ini memang sedang menggencar-gencarkan belajar dan membuat karya tulis ilmiah kepada setiap anggotanya. Kami melatih daya kritis dan berfikir kreatif melalui diskusi-diskusi yang semi non-formal hingga akhirnya berhasil menghasilkan ide dan mengolahnya menjadi sebuah tulisan.
Pelatihan menulis Abstrak
Pict: Abdullatip dan Leni Anggraeni

Melalui kegiatan ini diharapkan bisa menularkan kebiasaan menulis. Karena bagi kami menulis merupakan hasil implementasi daya literasi seluruh ilmu yang dimiliki. Dan semoga, kebiasaan ini bisa menular kepada anak muda, dan menerapkan konsep bahwa belajar tidak hanya terpaku dengan buku dan ruang kelas. Belajar adalah situasi dimana kita nyaman mendapat ilmu dan mengaplikasikannya.
Learn its enjoy!

Salah satu stasiun TV lokal di Bandung meliput kegiatan kami belakang itu para reporter. Depan kiri: Ardi Rizkia Farahengki, Abdullatip, Lisna Anggraeni, Leni Anggraeni
Terima kasih kepada beberapa pihak yang telah mendukung komunitas Tanpa Batas Spasi dan teruntuk mentor kami ka Ardi Rizkia Farahengki yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing kami.

Senin, 09 Januari 2017

Leni Anggraeni Statusku


"Kejahatan terbesar adalah ketika kita tak di anggap". 
Itulah kata-kata dari a Ardi Rizkia seusai kegiatan kajian kemarin yang dilaksanakan di Mesjid Al-Furqon. Ketika kita tidak dianggap secara tidak langsung kita dianggap gaib alias tembus pandang (lantas sakit bukan?). Coba bayangkan kalau kita dalam suatu acara terus kita tidak dianggap keberadaanya. Bahkan tak ada yang nanya satupun padahal orang-orang disekitar mengenal kita (disitulah hati terluka). 
Peran menghargai, menganggap, sangat penting dalam dunia ini. Dengan menghargai oranglain kita pun akan dihargai. So, tanamkan dalam diri kita agar selalu menghargai dan mengagap keberadaanya. (Sebelum kita yang gak dianggap oleh oranglain he... he).
#CharityGeneration
#TanpaBatasSpasi
#ardirizkia

Balik ke dapur



"Untuk apa kau sekolah sampai ke perguruan tinggi? Banyak yang sudah lulus sarjana tapi nganggur.
Apalagi wanita nanti juga balik lagi ke dapur." Ucap salah satu masyarakat.
Jawabannya,"untuk menuntut ilmu agar kami bisa tahu dari yang tidak tahu. Karena ketidaktahuan membuat kita sengsara dan yang lebih parah (sengsara hati). Memang menuntut ilmu bukan hanya di bangku formal dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa. Tetapi, selain ilmu yang kita dapatkan kita dapat belajar nilai-nilai kehidupan.

Jaman selfie

Fenomen Selfie
Ku: Leni Anggraeni

Naha jaman kiwari jaman sélfie atawa jaman globalisasi?
Di jaman kiwari geus lumrah nu ngarana selfie. Ti mimiti budak ngora nepikeun ka nini-nini jeung aki-aki apal kanu ngarana selfie. Teu ngabédakeun di kampung atawa di kota. Teu ngabédakeun jalma aya atawa jalma nu teu boga.  Ieu baalukar tina kamajuan jaman atawa jaman globalisasi. Réa jalma nu ngahartikeun yén jaman globalisasi nya éta jaman nu teu kawatesan dina sagala hal jaman ‘kabebasan’. Ieu hal dibuktikeun ku majuna téhnologi nu mangaruhan kana pola hirup manusa. Contona handphone (hp) nu mimiti fungsina pikeun alat  komunikasi.  Beuki deui beuki canggih lantaran dilengkepan ku fitur-fitur (aplikasi) nu aya dina jero hp, saperti foto, social media (facebook, line, bbm, Instagram, path, jsb). sagala nu dipikahayang ayeuna mah tinggal ‘klik’. Hayang dahar tinggal delivery, hayang naék mobil alus langsung pesen Grab, hayang balanja tinggal klik.  Ieu pikeun nyumponan pangabutuh manusa. 
Fenomena selfi teu leupas tina sosial media, salaku nu boga akun sosial media bisa ngakses nu dipikahayang saperti upload foto, update status, jsb. Tujuan manusa miboga media social béda-béda aya nu keur sarana dakwah, méré informasi, aya ogé nu hayang exsis di media social.  Lolobana mah budak rumaja hayang exsis. Réa  jalama nu jadi artis gara gara selfie di media social, atawa gara-gara upload video.  
Ti mimiti tukang bajigur, tukang dagang, nepikeun ka artis jeung para pejabat teu wéléh jeung teu leupas nu ngarana sélfie. Minangka karesep jeung menang respon positif nalika di upload ka media social jadi candu pikeun nu resep selfie. Karek hudang tuluy selfie, geus mandi tuluy selfi- upload, jalan jalan tuluyna selfi, rék dahar ain ngadua heula tapi dahareuna téh di foto heula tuluy di upload. Ieu mangrupa parobahan jaman.Memang ku cara sélfi nimbulkeun parobahan pola hirup manusa. Boh pangaruh positif atawa negative. Contona pangaruh negative selfie



1.      Obsesi nu gede pikeun tampil sacara sampura
Sangakan meunang respon postif ti batur boh éta like atawa komen. Kudu tampil sacar sampurna sapertina tina tampilan.
2.      Resep di puji
Nalika tampil sacra sampurna jeung meunang pujian I batur hate jadi resep. Tapi nimbulkeun jadi mikacinta ka diri sorangan.
3.      Numuwuhkeun kepribadian nu narsis
Lantaran boga  sipat nu narsis ngaarasaa diri leuwih tibatur nuwuhkwun sikep adigung sarta nyepelekuen batur.
4.      Nimbulkeun kajahatan
Réa kajadian boh pemerkosaan, pembunuhan alatan tina media social.
5.      Nimbulkeun candu
6.      Penipuan

Ieu robahna jaman antara jaman globalisasi  jeung jaman selfie nu teu bisa dipisahkan. Salaku nu resep selfi sarta nu miboga media social kudu bijak nalika makéna. Lantaran pangaruhna lain keur urang hungkul tapi keur batur ogé. Bisa waé urang mangaruhan batur alatan paripolaah urang nu teu hadé nepikeun batur nurutaan sarta nimbulkeun nu ngarana dosa  dosa.