Desa Mangkurayat terletak di Kecamatan Cilawu
Kabupaten Garut. Memiliki luas wilayah 280.084 Ha, luas sawah 137.200
Ha, luas darat 134.100 Ha, luas pemukiman 93.800 Ha dengan jumlah penduduk 9391 jiwa.
Sebagian besar mata pencaharian di desa tersebut sebagai petani dan buruh
pabrik di perusahaan asing. Desa Mangkurayat dikatakan masih tertinggal. Dengan
pertimbangan, kesadaran akan pendidikan masih rendah dan tingginya angka putus
sekolah sehingga menyebabkan angka pengangguran meningkat. Rendahnya
sumber daya alam manusia menjadi penyebab angka pengangguran tinggi.
Ketertinggalan Garut pada bidang pendidikan tersebut dilihat
dari rata-rata lama sekolah penduduk Garut saat ini berdasarkan data indikator
makro Kabupaten Garut hanya sampai kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebesar 60% penduduk Garut hanya
berpendidikan tamatan Sekolah
Dasar
(SD). Padahal fasilitas pendidikan
setingkat Sekolah Menengah
Pertama sudah tersebar di mana-mana. Data Kantor Pusat Statistik/Badan Pusat Statistik Kabupaten
Garut mencatat, pada 2012 rata-rata lama sekolah penduduk Garut masih 7,59
tahun, meningkat tipis dibandingkan 2011 lalu selama 7,37 tahun. Artinya,
rata-rata penduduk Garut menjelang dua abad usia Kabupaten Garut ini hanya bisa
tamat SD.
Hal ini
berdampak pada tingkat budaya literasi di Kabupeten Garut yang masih rendah. Jumlah
penduduk yang memiliki minat baca hanya sekitar 10 persen dari jumlah penduduk
Garut sebanyak 2,4 juta jiwa. “Minat baca masyarakat ini masih jauh dari
standar nasional dan provinsi,” ujar Kepala Kantor Perpustakaan Daerah Garut
Wawan Nurdin, Selasa, 24 Mei 2011. Rendahnya minat baca disebabkan masyarakat yang
lebih
memilih gemar menonton
dibandingkan membaca dan menulis
sehingga timbul generasi penonton.
Tradisi budaya
lokal kita adalah budaya lisan (orality),
bukan budaya tulis. Hal itu membuat penyimpanan gagasan, dan pengetahuan hanya
terjadi di dalam hapalan ingatan semata.
Selain itu, Kurangnya sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat akan pentingnya
membaca dan fasilitas perpustakaan di wilayahnya masih kurang sehingga
menyebabkan rendahnya literasi di Kabupaten Garut. Wawan Nurdin Kepala Perpustakaan Daerah Garut
mengatakan bahwa “Anggaran kita untuk perpustakaan ini hanya sebesar Rp 35
juta, tidak sebanding dengan jumlah sekolah dan penduduk yang ada.
Akibat yang ditimbulkan jika
permasalahan ini dibiarkan Kabupaten Garut sulit untuk keluar dari status
daerah tertinggal di Indonesia dan menyebabkan anak kehilangan daya kritis sekaligus
menurunkan motivasi untuk belajar. Bahkan berdampak pada peningkatan angka
pengangguran. Efek lebih lanjut adalah semakin
miskinnya koleksi karya-karya. Padahal literasi sendiri menjadi jantung sebuah
pendidikan dan mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya
minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
dan informasi di dunia, di mana pada ahirnya akan berdampak pada ketertinggalan
bangsa Indonesia.
Budaya literasi harus
terus dikembangkan karena salah
satu peninggalan budaya sejak zaman dahulu kala bahkan zaman para nabi yang
telah di bersihkan racunnya dari zaman ke zaman jadi kita hanya tinggal
melestarikannya . Namun bukan berarti tidak boleh dan tidak dapat memoderenisasikan
sesuatu di zaman sekarang. Kita hanya perlu mengetahui hal-hal apa saja yang
perlu dimoderenisasi dan hal apa yang tidak perlu. Hal-hal yang perlu
dimoderenisasi adalah seperti teknologi dan kecanggihan dalam menggunakannya,
namun harus pula menyaring virus yang dibawanya agar sifat zoon politicon
tetap hidup dan menekan sifat homo homini lupus.
Tak bisa
dipungkiri saat ini harus bisa menemukan teknologi terbarukan dan harus pula
paham cara menggunakannya agar kita tidak ditelan zaman. Adapun hal-hal yang
harusnya dibiarkan saja tanpa harus dilakukan moderenisasi selain budaya
literasi adalah sifat kebaikan manusia serta nilai-nilai baik yang telah
diterapkan dari dahulu zaman-zaman sebelumnya, karena hal ini telah seharusnya disharing oleh para pendahulu kita setiap
racunnya jadi kita tinggal menerapkan dan memilah mana yang patut dan mana yang
tidak patut digunakan.
Pentingnya
budaya literasi dalam kehidupan masyarakat yaitu dapat menambah dan memperluas
wawasan dan pengetahuan, memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah,
mempertajam tingkat pemikiran, memiliki sikap objektif terhadap masalah, dan
selalu mementingkan fakta dan infomasi. Sehingga dapat meninngkatkan kecerdasan
bangsa, membuka jendela dunia dan pendidikan di Indonesia semakin maju.
Sebagai wujud dari kepedulian
terhadap dunia pendidikan dan pentingnya pengetahuan yang lebih kompleks bagi
generasi-generasi muda,
mahasiswa kabupaten Garut yang berjumlah lima orang dari berbagai universitas
di luar Garut berusaha mencari wadah yang ideal untuk menampung kepedulian
ini. Ide-ide kreatif dan simpatik yang diwujudkan melalui CarGer (Carity Generation).
Komunitas ini merupakan
salah satu
media/wadah yang berinisiatif
meningkatkan minat dan cinta terhadap buku dan bacaan dengan memanfaatkan sumber daya
manusia di kalangan generasi
muda terutama anak-anak di desa Mangkurayat Kabupaten Garut. Carger merupakan sebuah
Komunitas Muda Peduli, yang mengkampanyekan budaya membaca,
menulis dan mengasah bakat anak. Sasaran
komunitas ini yaitu pelajar terutama anak yang tidak sekolah atau putus
sekolah.
Terdapat
beberapa hambatan dalam mendirikan komunitas Carger ini diantaranya membutuhkan
proses yang panjang untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan
ataupun menulis dan membaca. Kecemasan lebih dalam yaitu ketersedian tempat. Sehingga,
menimbulkan ketidakefektifan dalam proses pembelajaran dan menghambat dalam penyimpanan buku yang telah
digalang.
Gerakan literasi merupakan salah
satu program pendidikan non-formal dan dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa
serta usaha melestarikan program pendidikan non-formal melalui salah
satu program pemberdayaan masyarakat dengan pengembangan gerakan literasi serta
pengembangan budaya baca pada masyarakat akan peningkatkan pengetahuan dan
wawasan yang lebih baik dan berarah pada progres atas kehidupan serta
berkepribadian, baik pribadi, kelompok maupun dalam bermasyarakat. Hal ini bersangkutan dengan perdaban
suatu bangsa yang ditentukan
oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di
hasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, sedangkan ilmu
pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan.
Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan semakin
tinggi peradabannya .
Membudayakan atau membiasakan untuk
membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat
kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk. Haryanti (2015)
menyebutkan ada banyak cara untuk membentuk budaya literasi diantaranya (dekat,
mudah, murah, senang, lanjut), 1) Pendekatan akses fasilitas baca (buku dan non
buku), 2) Kemudahan akses mendapatkan bahan bacaan, 3) Murah/tanpa biaya
(gratis), 4) Menyenangkan dengan segala keramahan, 5) Keberlanjutan /Continue .
Carger
memiliki konsep yang berbeda dengan komunitas yang lain sehingga unik yaitu
dengan memperdayakan masyarakat yang tidak melanjutkan sekolah dan tidak
memiliki pekerjaan untuk mengelola komunitas dengan memberikan pembekalan
pelatihan menulis, meningkatkan minat baca dan mengembangkan bakat yang dilakukan
selama dua minggu sekali. Pemateri didatangkan langsung oleh ahli sehingga
diharapkan bisa meningkatkan mutu pendidikan dan kesadaran akan pentingnya
pendidikan. Setelah dilakukan pembekalan pada masyarakat diwajibkan untuk
diaplikasikan kepada anak-anak yang putus sekolah ataupun tidak sekolah. Adapun
tempat pelaksanaan yaitu di alam terbuka karena keterbatasan tempat yang belum
tersedia. Pembelajaran berlangsung selama tiga
jam/minggu. Dengan jumlah anak 40 orang anak. Sistem pembelajaran yang
dilakukan yaitu dengan sistem regu untuk membedakan jenjang pendidikan terutama
untuk pelajar yang putus sekolah.
Mitra untuk membantu komunitas Carger di antaranya
berkerjasama dengan penerbit buku untuk penggalangan buku dan penggalang dana dari
donator baik itu mahasiswa ataupun masyarakat umum. Salah satu keuntungan
sebagai donator yaitu sebagai media patner dan sebagai ajang promosi terutama
untuk beberapa perusahaan yang baru berkembang. Sedangkan tugas volunteer Carger yaitu menyiapkan acara,
mengelola keuangan, mencari donator, memberikan intensif untuk masyarakat yang
mengelola komunitas dan mengawasi perkembangan anak ataupun komunitas. Jika
dilakukan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, treatment) terhadap
komunitas Carger (Carity generation);
a) Strenght : Carity Generation
(Carger) bisa berjalan apabila antara
elemen masyarakat dan volunteer carger
bisa bekerja sama team work dengan
asas saling keterbukaan. Selain itu karena diberikannya pelatihan menulis dan
pelatihan pengembangan bakat dapat menghasilkan cetakan unggulan, baik itu
prestasi akademik maupun non akademik. Carger memiliki konsep yang unik yaitu
melibatkan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan untuk mengelola komunitas sehingga
angka penganguran di desa Mangkurayat menurun. Proses pembelajaran dilakukan
belajar sambil bermain agar tidak menimbulkaan kejenuhan. Dengan meningkatan
budaya membaca dapat menambah wawasan dan memangkas buta menulis dan membaca.
Sehingga dapat mengembangkan pribadi yang sukses dan mandiri. Selain itu, yang
menjadi volunteer akan mempublish
hasil tulisan setiap anak baik itu dibukukan ataupun diperlombakan agar dapat meningkatkan
ekonomi masyarakat;
b) Weakness :
Beberapa
kecemasan lebih dalam yaitu ketersedian tempat. Sehingga, smenimbulkan ketidakefektifan dalam proses
pembelajaran dan menghambat dalam
penyimpanan buku yang telah digalang. Selain itu, upaya untuk memberikan kesadaran akan
pentingnya pendidikan ataupun menulis dan membaca menjadi hambatan karena membutuhkan
proses yang panjang;
c)
Opportunities : Tingginya
keinginan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini dan memberikan
sumbangan berupa buku-buku, sehingga buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan
dengan baik. Adapun dari kegiatan ini mencari sponsor untuk memudahkan dan bisa
bekerja sama dengan pihak lain, dan membuka para donatur yang ingin memberikan
sumbangan;
d) Treat : Hambatan
dalam kegiatan ini tidak selamanya orang-orang yang ikut berpartisipasi tetap
bertahan, akan tetapi ada saja orang yang mengundurkan diri/tidak
melakukan follow up sehingga SDM yang dibutuhkan berkurang dan menyebabkan
kurang berjalannya kegiatan. Selain itu, hanbatan lainnya yaitu kurang
terealisasinya dana yang diberikan untuk kegiatan ini.
Dengan sering membaca, dengan secara tidak sadar
akan mengalir pengetahuan walaupun sedikit akan menjadi bukit, dampaknya akan
dirasakan menuntun untuk menguasai dunia dengan ilmu pengetahuan yang berguna. Dengan adanya sinergi semacam ini berharap budaya
literasi yang merupakan ciri khas pelajar dapat kembali melekat.
Dengan adanya Carity Generation diharapkan menghasilkan
generasi emas yang dapat ikut mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa,
meningkatkan budaya membaca dan menulis, mengembangkan bakat setiap anak, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
pendidikan sehingga tingkat pendidikan meningkat dan mengurangi angka penganguran terutama di Desa
Mangkurayat Kabupaten Garut.