Banyak hikamh yang bisa saya pelajari dari diklat SSG (Santri Siap Guna). Memang kemarin adalah pekan ke-2 dalam pertemuan SSG. Tapi, hikmah yang sayaa rasakan sungguh luar biasa. Ini adalah ajang mendekatkan saya dengan Sang Kholik. Pembukaan diklat SSG ini dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2017, diawali dengan orientadi Medan yaitu dengan cara lari berkeliling terus dilanjukan dengan terjun ke sungai. Sungai yang terbilang "pembuangan masyarakat". Kotor, banyak sampah, bau, berbatu, bahkan airnya cukup deras. saya tak tahu apa nama air sungai itu yang jelas masih daerah pondok hijau, yang letaknya tak jauh dari pesantren DT. Ketika melintasi sungai, hanya bisa bertafakur. Ini tidak seberapa dibandingkan dosa-dosa yang saya sudah lakukan, mungkin lebih dari ini, kotor, berbau, dsb.
Hampir-hampir saja saya terbawa arus sungai. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan orang lain yang terkena banjir hingga banyak yang hanyut. Seberapa kerasnya mereka memperjuangkan agar tetap hidup, menyelamat diri, "ini hanya bagian kecil". Yang lebih menakjubkan dikala saya harus melintasi air terjun. Saya yang pada dasarnya tidak bisa renang memeberanikan diri untuk melintasinya. Airnya yang lumayan dalam dan hanya berpegang pada tali untuk melintas. Satu lintasan untuk menuju air terjun, Alhamdulilah sampai dengan selamat. Walaupun nafas saya yang mulai sesak. Melanjutkan lintasan untuk menuju tempat dari pusat air terjun ke tempat berkumpulnya seluruh santri. Nafas saya yang mulai tidak terkontrol untuk meilntas yang hanya berpegangan pada satu tali, bahkan tali yang ini tidak terbentang dengan kuat alias kendor, di tambah badan saya yang pendek yang tak sampai menuju dasar kolam. Tiba-tiba tali yang saya pegang terlepas. Saya hanya bisa pasrah, karena nafas pun sudah tak terkontrol dan banyaknya air yang masuk kedalam tubuh saya, di tambah tidak bisa renang dan kolamnya yang lumayan dalam. "Ya Allah, saya serahkan pada-Mu." Dengan badan saya yang tenggelam.
Alhamdulliah Allah masih menyelamatkan saya, tiba-tiba di belakang ada teteh-teteh yang mengangkat saya ke atas hingga saya bisa bernafas. Walaupun badan sudah lelah. Dan tidak di sangka dengan izin Allah saya tiba di penyebrangan. Dan terdengar suara pelatih, "Berdiri! berdiri! cepat ambil air wudhu!."
saya pun berjalan dengan sekoyongan dan langsung mengambil air wudhu. Hikmah yang bisa saya ambil yaitu "Hanya Allah tempat meminta.". Allah tempat bergantung. Disaat posisi seperti itu, tak ada yang bisa membantu yang ada hanyalah pertolongan Allah Swt. Saya membayangkan, bagaimana di akhirat kelak menyebrangi jembatan shirathal Mustaqim (jembatan setipis rambut di belah tujuh), yang ada hanyalah pertolongan Allah dan amal kita. Wallahualam :).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar